“Lestaria” Carrousel, Entertaining Marginalized People


Text & Photo : Hari Setianto

Indonesian Culture – indonesiaculture.net. Night since last arrived, the night market should have been crowded with visitors, passing of this wide land. Tumult of visitors tends to slightly reduce the loud roar of the engine generator – power has been since the afternoon pushing nonstop merry-go-round, although no one riding. Unsaturated spins, to continue to attract people to come and ride around.

Malam tiba sejak tadi, seharusnya sudah jam Pasar Malam dipadati pengunjung yang lalu-lalang ditanah lapang gembur ini. Hiruk pikuk pengunjung biasanya mampu sedikit meredam nyaring deru mesin generator – dayanya sudah sedari sore memutar tanpa henti wahana permainan anak Komedi Putar, meski tak berpenunggang sekalipun. Putarannya seakan tak jenuh untuk terus memikat masyarakat sekitar datang dan menunggangi.

Not vain the spin of Windmills, Flying Balloons, Making Waves, The Duck Train, what helping a charm marry-go-around. Though not created crowd of visitors, masses are slowly starting to come in turns. Windmill game has always been a favorite of children. View times seen children who came with family, straight to the counter of a windmill. Tickets valued at four thousand rupiah handed over to the officers, while waiting their turn comes.

Tak sia-sia juga putaran Kincir Angin, Balon Terbang, Ombak Putar, Kereta Bebek, membantu Komedi Putar menebar pesona. Meski tak tercipta kerumunan pengunjung, berangsur-angsur silih berganti masyarakat datang. Wahana permainan Kincir Angin selalu menjadi primadona anak-anak. Beberapa kali terlihat anak-anak yang datang bersama keluarga, langsung menuju loket Kincir Angin. Tiket senilai empat ribu rupiah itu diserahkan pada petugas dipagar antrian sambil menunggu giliran tiba.

Agung (6 years old), is a brave boy, his father just watched from the side of the fence, while Agung began to come into the basket of passengers, is more like a large cage. It hanging out in a big circle, started slowly pushed up until the peak height of 30 metres. From inside the cage all night market activity looks small. The train car shaped like a long snake winding around the night market area.

Agung, 6tahun, termasuk anak pemberani, sang ayah hanya mengawasi dari pinggir pagar sementara Agung mulai masuk kedalam keranjang penumpang yang lebih mirip sangkar besar. Keranjang yang bergelantung dilingkaran besar mulai terdorong perlahan keatas hingga dipuncak ketinggian 30meter. Dari dalam sangkar, semua arena dan aktivitas pasar malam terlihat mini. Mobil berbentuk Kereta Api panjang terlihat bagai ular berkelok-kelok memutari areal pasar malam.

Not satisfied drift yet, gravitational pressure pushing the cage into the round of torrential down. Vibration and friction is hard to add tense atmosphere inside the cage -heard loud screams from the other passengers in the cage next one. While Agung really enjoy this situation. everytime a big smile seen when the cage should be a free fall. Agung’s adrenalin had spurred in 15 minutes. “Agung often rides this, a wind mill, which he likes,” Said his father walked away when Agung pulled his finger into another vehicle.

Belum puas melayang, tekanan gravitasi kini mendorong deras sangkar keputaran bawah. Getaran dan gesekan keras menambah tegang suasana didalam sangkar. Terdengar teriakan keras dari penumpang lainnya disangkar sebelah. Sementara Agung justru menikmati situasi ini, senyum lebar setiapkali sangkar harus terjun bebas.15menit sudah addrenalin Agung terpacu. “Agung sudah sering naik ini, memang kincir angin yang paling dia suka,” kata sang ayah sambil berlalu saat Agung menarik jemari sang ayah menuju kewahana lain.

It’s different from Agung’s trip with his family, while Deni, (8 years old) came with his two friends in the same aged. Fast pace he was not concerned with a variety of children games. Deni just walk to the agility arena games with prizes. Thousand rupiah he exchanged with three small balls – ready to be released in the style of a high concentration. A small ball rolls and bounces from nail-reflective barrier complex puzzle. Not for Deni, although its direction a little wild, the ball still went to the main prize bulkhead. Soda drink bottle “Coca-Cola” content 1.5 litre, lifted high as a winning trophy. “He comes everynight, we’ll lose out if he always win,”said Joko, the guard of  rolling ball game.

Berbeda dengan Agung yang plesir bersama keluarga. Deni, 8tahun, datang bersama dua orang kawan seumuran. Langkahnya cepat, beragam wahana permainan anak “putar-putar” tidak ditolehnya. Deni menuju ke arena permainan ketangkasan berhadiah. Dengan uang jajannya seribu rupiah ia tukarkan dengan tiga buah bola kecil – siap dilepas dengan gaya konsentrasi tinggi. Bola kecil menggelinding terpantul-pantul halangan paku yang mempersulit arah tebakan. Tidak bagi Deni, meski arahnya sedikit liar, bola tetap menggelindingi ke sekat hadiah utama. Minuman soda ”Coca-Cola” isi 1,5liter diangkatnya tinggi-tinggi bak tropi juara.“Tiap malam mas anak itu datang, ya kita rugi juga kalau dia menang terus,” kata Joko sang penjaga permainan bola gelinding.

Knows no age,so many people trying to seek his fortune like Deni. Agility arena close domino, unsparing gifts, Chinese mobile phone production tempt any visitor who passed by. A couple of young family struggles to close around red dominoes with 3 plates of zinc. The wife first trial was failed, now the husband was asked to try to cover the red circle, but failed as well. Not satisfied, she kept asking her husband to try again. That is four times the husband’s best efforts, still fail as well. Along with the drizzle that began to come down hard, the couple decided to surrender. The wife went to look disappointed, failing to obtain the ideal mobile phone.

Tak kenal usia, begitu banyak orang yang mencoba mencari peruntungan seperti Deni. Di arena ketangkasan Tutup Domino, hadiahnya tak tanggung-tanggung, telepon selular produksi China menggoda setiap pengunjung yang lewat. Pasangan keluarga muda sedang berusaha keras menutup bundar domino merah dengan tiga buah plat seng. Percobaan pertama dari sang istri gagal, kini sang suami diminta mencoba menutup lingkaran merah, namun gagal juga. Tak puas, sang istri terus meminta suaminya mencoba lagi. Sudah empat kali sang suami berusaha keras, tetap gagal juga. Bersamaan gerimis yang mulai turun dengan keras, pasangan ini memutuskan untuk menyerah. Sang istri berlalu dengan raut kecewa gagal mendapatkan telepon selular idamannya.

The guards closed the games arena, spotlight has gone out the same roar of the engine generator stops. “Tonight was pretty good, though not crowded but nearly all the games there are guests,” said Ujang the person in charge field. Middle-aged men born in Padang, West Sumatra, just wanted to be called by the name of Ujang, a name almost identical with those Sundanese. Ujang has not been long believed to manage the business carrousel. The owner does not live in Jakarta but far in Sragen, Central Java. Mas Jangkung, Ujang mentioned the owner’s name of carousel game “Lestaria”.

Para penjaga arena permainan sigap berberes, lampu sorot sudah padam disusul hilangnya deru mesin generator. “Malam ini lumayan, biarpun tidak ramai tapi hampir semua permainan ada pengunjungnya,” jelas Ujang sang penanggung jawab lapangan. Pria paruh baya kelahiran Padang, Sumatera Barat ini hanya ingin dipanggil dengan nama Ujang, nama yang sebenarnya identik pada orang keturunan Sunda. Ujang belum lama dipercaya mengelola bisnis Kemedi Putar, pemiliknya justru tidak tinggal di Jakarta tapi jauh di Sragen, Jawa Tengah. Mas Jangkung, begitu sapaan Ujang pada pemilik Permainan Komedi Putar “Lestaria”.

For Ujang, lucky Mas Jangkung had to understand the conditions of the night market which increasingly empty. For him the most important operational needs 10 liters of diesel fuel to operate 3 diesel engines and some money left for his servants. Workers are paid based on the entering of visitors every night. 25% revenue share for his 10 workers, remaining for other operating expenses, such as legal fees, diesel fuel and rental trucks.

Bagi Ujang, beruntung Mas Jangkung mau mengerti kondisi pasar malam yang semakin lama semakin sepi pengunjung. Baginya yang terpenting kebutuhan operasional 10 liter solar untuk mengoperasikan tiga buah mesin diesel dan sedikit sisa uang lebih untuk makan para pegawainya terpenuhi.Yang penting tetap berjalan. Pekerja dibayar berdasar pemasukan pengunjung setiap malamnya. 25 persen pemasukan dibagi untuk 10 orang pekerjanya, sisanya untuk kebutuhan operasional lain seperti ongkos perizinan, solar dan sewa truck pengangkut.

With this conditions, only the strong workers who can afford to continue to play a merry-go-round “Lestaria”. They are a true wanderer, moving every three weeks to find and take the other areas. For Ujang, only workers from central java region are the famous as tough workers. “Eat, sleep, work in the field of play, you cannot go back home”, added Ujang. His ten workers today, became Ujang spirit to keep searching the empty field that can be used for public entertainment.

Dengan kondisi seperti ini, hanya pekerja-pekerja tangguhlah yang kuat untuk terus memutar Komedi Putar “Lestaria”. Mereka pengelana sejati, berpindah-pindah setiap 3 minggu mencari dan menempati tanah lapang lainnya. Bagi Ujang, pekerja dari daerah Jawa Tengah terkenal tangguh.“Makan, tidur, bekerja ya di area permainan, tidak bisa ditinggal pulang kampung dulu,” tambah Ujang. Kesepuluh pekerjanya yang sekarang ini, menjadi penyemangat Ujang untuk terus mencari tanah lapang kosong yang boleh digunakan untuk hiburan rakyat.

Increasingly difficult to find field in Jakarta today, “Lestaria ” began shifting around Depok, Pamulang, Parung, Bogor, West Java. The area of the old factory of shoes “Bata” in Kalibata clearing the last witness to the creation of the people’s night market for South of Jakarta Masses. Now become a modern residential district – Apartment, in theory the Government as a residential program for people of all social classes. Funny thing is, no one yet occupies but they sell back to the price range of two hundred million rupiah. Just far away from the ability of low class. Government’s dream is not the same to reality.

Semakin sulit mencari tanah lapang di Jakarta sekarang ini, “Lestaria” sendiri sudah mulai bergeser kearah sekitaran Depok, Pamulang, Parung, Jawa Barat. Areal bekas pabrik sepatu “Bata” dibilangan Kalibata menjadi saksi tanah lapang terakhir berdirinya Pasar Malam Rakyat bagi warga Jakarta. Sekarang sudah menjadi kawasan hunian moderen. Apartement yang menurut teori program pemerintah sebagai hunian rumah susun segala lapisan. Belum saja rampung, hunian sudah ludes terjual. Lucunya, belum juga dihuni tapi sudah ramai dilego kembali hingga kisaran harga dua ratus juta rupiah. Nominal yang jauh dari tabungan pendapatan lapisan bawah. Kenyataan yang tak seperti mimpi pemerintah.

People’s night market has become one part of the history of our nation journey. In 1920, thousands of youth gathered on Monas region. Gambir Night Market became a medium of the fusion of different layers of the society from all corners of Jakarta (Batavia). Not only become a place of goods transactions, but rather a space for the exchange of information, even when the freedom fighters prepare for  against the invaders.

Pasar Malam Rakyat sempat menjadi salah satu bagian sejarah perjalanan bangsa ini. Di tahun 1920, ribuan pemuda berkumpul dikawasan Monas. Pasar Malam Gambir menjadi ajang berbaurnya berbagai lapisan masyarakat dari segala penjuru Jakarta (Batavia). Tak hanya menjadi tempat transaksi barang dagangan, melainkan arena pertukaran berbagai informasi, termasuk ketika para pejuang kemerdekaan menyusun perlawanan terhadap penjajah.

In year 1968, Gambir Night Market inspired the development of modern bazaar with nickname Jakarta Fair. Now, Pekan Raya Jakarta (PRJ) became the popular title. The location is also no longer in the Monas region. Since Year 1992, in an area of 44 hectares of former Kemayoran Airport, PRJ become “not just the ordinary night markets,” as President Susilo Bambang Yudhoyono called it. This year, PRJ in 30 day organizing reached 3,5million visitors. With the value of transactions reached 3.1 trillion rupiahs.

Di Tahun 1968, Pasar Gambir menjadi inspirasi pengembangan pasar malam moderen yang berjuluk Jakarta Fair. Sekarang popular dengan sebutan Pekan Raya Jakarta (PRJ). Lokasinya juga tak lagi dikawasan Monas. Sejak Tahun 1992, di area seluas 44 hektar bekas Bandar Udara Kemayoran, PRJ menjadi “bukan sekedar pasar malam biasa,” begitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebutnya. Tahun ini, dalam 30 hari penyelenggaraan PRJ menyedot 3,5juta pengunjung. Dengan nilai transaksi mencapai 3,1 trilyun rupiah.

“Lestaria” carrousel, are certainly “The Ordinary Night Market”. It will remain everlasting into ordinary night market – Entertain marginalized peoples, peoples who could not reach the pass ticket ala “Disneyland” style or video games. Not able shop at the Mall, even the corners posters flirting with the large write “Jakarta Great sale.”

Komedi Putar “Lestaria” memang “pasar malam biasa”. Akan tetap lestari menjadi pasar malam biasa – menghibur rakyat terpinggirkan yang tak mungkin menjangkau tiket terusan wahana permainan ala Disneyland atau Video Games. Apalagi berbelanja meski dirayu baliho-baliho disudut jalan menuliskan dengan besar “Jakarta Great Sale”.

Incoming search terms:

  • pasar malam games
  • Produsen permainan utk pasar malam
  • sewa komedi putar jakarta
  • sewa mainan kincir angin komdi putar

Related Posts

    No related posts.

2 Comments

  1. Glad to see that this site works well on my Droid , everything I want to do is functional. Thanks for keeping it up to date with the latest.

Leave a Response