Remy Sylado
Text & Photo : Hari Setianto
Indonesian Culture – indonesiaculture.net. Remy Sylado alias 23761 the meaning of the number of rows in the choir at the scales threaded song “I give her all my love” belonging to the legendary band The Beatles. All too often seen by his coworkers based on his experience at the first time when Remy kissed a woman. For this latest an understating of, Remy replied with a joke,” before that date I’ve often kissing…. Dog,”
Remy Sylado alias 23761 – deretan makna angka dari tangga nada yang terangkai dalam refrain lagu “I give her all my love” milik band legendaris The Beatles. 23761, juga sering dianggap rekan-rekannya dibuat Remy berdasarkan pengalamannya pada saat Remy pertama kali mencium wanita. Untuk pemahaman angka yang terakhir ini, Remy menjawab dengan kelakar, “Sebelum tanggal itu saya juga sudah sering mencium…..Anjing”.
Remy Sylado play actor, writer and artist, born in Makassar, July 12, 1945, with the original name of Yapi Panda Abdiel Tambayong. The original name was still not forgotten. Name Japi Tambajong wore when Remy made books of musicology, music ensiklopedia and reached award-winning “One Man achievements”. Flamboyant man fully white dressed in the style of country music singer was produced 13 volumes cassette artwork folk rock, country Dixie and up early 1985, very different from Indonesian pop music in general.
Remy Sylado seorang dramawan, novelis, dan seniman, lahir di Makasar, 12 Juli 1945 dengan nama Yapi Panda Abdiel Tambayong. Nama aslinya ini, tetap tak terkesampingkan. Nama Japi Tambajong dipakainya ketika Remy membuat buku-buku musikologi dan ensiklopedia musik hingga meraih penghargaan “One Man Achievement”. Pria flamboyant berpenampilan serba putih ala penyanyi country ini menghasilkan 13 volume kaset bercorak folk rock,country dan Dixie sampai awal 1985, jauh berbeda dengan musik pop Indonesia pada umumnya.
His talent has been stimulated in elementary school. By looking at pictures, Remy made entire essay. Not only in writing, little Remy also won a painting competition and music. Remy was able to read the Qur’an and writing Arabic letters since the age 14 – although he’s not a Muslim. He also read Java literature: Wulang Reh and Wedhatama.
Bakatnya sudah dirangsang sejak di Sekolah Dasar. Dengan melihat gambar, Remy membuat karangan. Tak hanya menulis, Remy kecil juga menjuarai lomba lukis dan musik. Remy sudah Qatham Al-Ouran sejak usia 14tahun dan mampu menulis huruf arab gundul meski ia bukan seorang muslim. Serat-serat Jawi seperti Wulang Reh, Wedhatama juga mejadi bacaannya
Remy’s literary works such as novels, short stories, poetry and drama, it is a place for him to think critically and rationally. Remy evidentiary concerns in the community will be oppressed, which at one time must be won in many different ways can be found in his works of beautiful naughty.
Karya-karya sastra Remy baik novel, cerpen, puisi maupun drama, merupakan wadah untuknya bisa berfikir kritis dan rasional. Pembuktian akan kepedulian Remy pada masyarakat tertindas, yang pada suatu saat akan dimenangkan dengan berbagai cara, terbaca dalam karya-karya nakal indahnya.
In Orde Baru period since around year 1970, Remy mbeling literatures, naughty, funny and satire as marked as his contemporary art works. Remy made musical drama. He was criticized the official corruption until the armed forces. “Indonesia Kamu Indonesia Kami” one of stage the drama themes that makes Remy was arrested and detained. “Machines can be different, although the limited of human mind reasoning,” said eccentric man who symbolizes the differences with the two watch he wore in left hands in less than two minutes and right hand over three minutes.
Di tahun 1970an masa orde baru silam, karya-karya mbeling, nakal, jenaka dan satire sebagai wujud seni kontemporer ini, ia pentaskan dalam sandiwara nyanyi. Dari aparat bersenjata hingga korupsi pejabat, ia kritik. “Indonesia Kamu Indonesia Kami” salah satu pentas drama yang membuat Remy ditangkap dan ditahan.”Mesin saja bisa berbeda apalagi pikiran manusia yang terbatas nalar,” tutur pria eksentrik yang menyimbolkan perbedaan pendapat itu dengan 2 jam tangan yang dikenakannya dipergelangan tangan kiri kurang 2 menit dan di kanan lebih 3menit.
Now in the reformasi era remaining the rest of the power is still there. Ingrained corruption, falsity of morality and the reversal of the logic that has been accepted by default, never change. Big issues like this are often appointed Remy remains of the view the masses. Reads within his novels, like: Cabaukan, Kembang Jepun, Parisj van Java, Diponegoro Penggagas Ratu Adil. Tell about the oppression of foreign Nations, or European colonial-era feared in the physical and psychological life of the Indonesia Nation.
Kini di era reformasi, sisa-sisa kekuasaan itu masih ada. Korupsi yang sudah berurat akar, kepalsuan moralitas serta penjungkirbalikan logika yang telah diterima secara baku, Tak kunjung berubah. Persoalan-persoalan besar seperti ini kerap diangkat Remy tetap dalam perspektif orang-orang kecil. Terbaca dalam novel-novelnya seperti Cabaukan, Kembang Jepun, Parisj van Java, Diponegoro Penggagas Ratu Adil, menceritakan penindasan yang dilakukan bangsa asing atau Eropa pada zaman penjajahan sungguh memperihatinkan kehidupan secara fisik dan psikis bangsa Indonesia.
In different era, Kerudung Merah Kirmizi, Mimi Lan Mintuna, Baulevard de Clichy novels. Tell oppressions continued the days after independence. Capital owners and local officials who become the oppressors replace the power of foreign or European countries.
Berbeda masa, novel Kerudung Merah Kirmizi, Mimi Lan Mintuna, Baulevard de Clichy. Menceritakan penindasan-penindasan yang tetap berlangsung dimasa setelah kemerdekaan. Pemilik modal maupun pemangku jabatan yang menjadi penindas menggantikan kekuaasan bangsa asing atau Eropa.
Ideas and thoughts are not born with imagination itself. Imagination grounded in real research. Break in old archives at the national library, used-book market, until the data that exist only in the library of Utrecht, Netherlands. The result is very powerful imagery and settings. Atmosphere of the place and time it’s portrayal as a witness era. ” All in accordance with the measure of that time “, explained the Tempo and Aktuil former journalist, who writes all of its work with a manual typewriter.
Gagasan dan pemikirannya bukan imajinasi yang lahir dengan sendirinya. Imajinasi berpijak pada riset yang sungguh-sungguh. Membongkar arsip-arsip tua di Perpustakaan Nasional, telusur pasar buku bekas, hingga data yang hanya ada di perpustakaan Utrecht, Belanda. Hasilnya, pencitraan dan setting sangat kuat. Suasana, pelukisan tempat dan waktu seolah menjadi saksi jaman. “Semua sesuai dengan takaran pada jamannya,” terang mantan wartawan Tempo dan Aktuil yang menulis semua karyanya dengan mesin ketik manual.
His recent work, serialize “Aku Mata Hari” in Kompas Newspaper, raised again the story of legendary figures from the European espionage that became high-level prostitutes. Mata Hari herself has studied dance at the Borobudur Temple – Relief127 for reference. With this erotic sways Mata Hari made men submissive. Like Jalan Tamblong works, most readers think writing vulgar or “not for me”. But the background, as well as his love for this place and repeat the history of Indonesia that Remy no end.
Karya terkininya, cerita bersambung “Aku Mata Hari” di harian Kompas, mengangkat kembali kisah tokoh spionase legendaris dari Eropa yang menjadi pelacur tingkat tinggi. Mata Hari sendiri sempat mempelajari tari di Candi Borobudur – relief 127 menjadi acuannya. berbekal goyangan maut inilah Mata Hari membuat para pria-pria tunduk. Seperti halnya karya Jalan Tamblong sebagian pembaca menganggap tulisannya vulgar atau “bukan untuk saya”, tetapi latar belakang tempat ini sekaligus menggambarkan kecintaan dan pengulangan Remy akan sejarah Indonesia yang tak ada habis-habisnya.
Despite hundreds of years ago Francis Xavier came to Moluccas Islands for write Latin characters until develop into the Dutch – Indonesia language dictionary, our society to this day with all the new limitations just beginning on the level of literacy freed. Are still oral and stories traditions not in the tradition of reading.
Meski sudah ratusan tahun lalu Fransiskus Xaverius datang kekepulauan Maluku untuk menuliskan huruf latin hingga berkembang menjadi kamus bahasa Belanda – Indonesia, masyarakat kita sampai sekarang ini dengan segala keterbatasan baru terbebas pada tingkatan bebas buta huruf. Masih tradisi (cangkem) mulut dan cerita, belum pada tradisi membaca.
Indeed bitter, but it will not subside will love this nation as Remy proven many times, in each of his works. Because it has been since the year 1928 we are able to create the most beautiful poem “Satu Nusa Satu Bangsa”
Pahit memang, tapi takkan surut kecintaan akan bangsa ini seperti yang berkali-kali dibuktikan Remy, dalam setiap karyanya. karena sudah sejak tahun 1928 kita mampu membuat puisi terindah “Satu Nusa Satu Bangsa”
Incoming search terms:
- http://www indonesia culture net/
- Arti kata remi silado
- remy sylado










