Nan Jombang – Rantau Berbisik

Indonesian Culture|indonesiaculture.net Nan Jombang Performances opened with so quiet ambience, the stage resembles a Padang restaurant complete by seat position. A man dancing on a table emerged with a slow movement. Followed by other dancers who move the dish rack that raises the sounds and jingling uniform interpreted by dancers. The silence dance increasingly produced clapping sound getting louder.

Pentas Nan Jombang dibuka dengan suasana yang begitu hening, tata panggung menyerupai Rumah Makan Padang. Rak piring, meja makan lengkap dengan kursi. Muncul seorang pria menari diatas meja dengan gerakan yang lambat, diikuti dengan penari-penari lain yang menggeser rak piring sehingga memunculkan bunyi-bunyian dan dentingan yang dimainkan seragam oleh para penari. Tarian yang hening lama-lama mengeluarkan tepuk-tepukan yang makin lama makin kencang.

Atmosphere that was Ery Mefri built, able to make a tension of the audience. Performed without any musical accompaniment, Nan Jombang utilized all existing properties maximally. He dinning room until the Minang sarong with typical motifs table load into a sharp instrument.

Atmosfer yang dibangun oleh Ery Mefri mampu membuat penonton tegang. Tampil tanpa ada musik pengiring, Nan Jombang memanfaatkan semua properti yang ada dengan maksimal. Meja makan hingga kain sarung motif khas Minang yang dikenakan menjadi bunyi-bunyian yang tajam.

Whispering of Exile, the title of a creation from the choreographer ery mefri, tells about the life model of Minang society tradition of West Sumatra who likes to wander into various areas to improve living standards. As well as part of a journey of culture and tradition, the stage setting resembles as Padang Restaurant, the Nan Jombang dancers express an activity in restaurants throughout the territory of Indonesia

Rantau Berbisik, judul dari karya koreografer Ery Mefri, bercerita tentang pola kehidupan tradisi masyarakat minang Sumatra Barat yang gemar merantau ke berbagai daerah untuk guna meningkatkan taraf hidup. Sekaligus sebagai bagian dari sebuah perjalanan budaya dan tradisi. Setting  panggung layaknya sebuah Rumah Makan Padang, para pemain Nan Jombang mengekpresikan sebuah kesibukan di rumah makan yang tersebar di seantero daerah Indonesia.

Nan Jombang Female dancers acting deftly dishes pile up in his arms to serve customers. Not less noisy, traditions Minang movement, such as martial arts and randai also become an important part. Dancers move in unison with a running, jumping and salto. the choreographer Ery Merfy, successfully combined the dance moves from his homeland, Minang with modern elements of ballet and yoga.

Penari perempuan Nan Jombang beraksi tangkas dengan piring bertumpuk-tumpuk di kedua lengannya melayani pelanggan. Tak kalah riuh, gerak tradisi Minang seperti silat dan randai juga menjadi bagian penting. Penari bergerak serempak dengan berlari, melompat, dan bersalto. Ery Merfy sang koreografer, berhasil memadukan gerak tari dari tanah kelahirannya, Minang dengan unsur-unsur modern balet dan yoga.

This dance is also closing event of Art Summit Indonesia (ASI) IV 2010. ASI is an intrenational musics, dances, dan theatre festival that was held every three years. The event of this sixth year ASI shows ten groups from South Korea, the United States, Austria, the Netherlands and Indonesia.

Tarian ini sekaligus menutup ajang Art Summit Indonesia (ASI) IV 2010. ASI adalah festival musik, tari dan teater bertaraf internasional yang digelar 3 tahun sekali. Pada penyelenggaraan tahun ke-6 ini ASI menampilkan 10 grup dari Korea Selatan, Amerika Serikat, Austria,Belanda dan Indonesia sendiri.

Incoming search terms:

  • Dance bersalto
  • rantau berbisik
  • Share/Bookmark
Tagged as: ,

Related Posts

    No related posts.

Leave a Response