<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonesian Culture - indonesiaculture.net</title>
	<atom:link href="http://www.indonesiaculture.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.indonesiaculture.net</link>
	<description>indonesian culture - indonesiaculture.net is a pioneering endeavor to form a complete Indonesian social cultural online library</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 Feb 2012 05:02:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Nyanyian Bui dari  Tanah Gayo</title>
		<link>http://www.indonesiaculture.net/2011/10/nyanyian-bui-dari-tanah-gayo/</link>
		<comments>http://www.indonesiaculture.net/2011/10/nyanyian-bui-dari-tanah-gayo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 20:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harisetu</dc:creator>
				<category><![CDATA[MOTION]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiaculture.net/?p=1349</guid>
		<description><![CDATA[Tetapi mengapa lagi-lagi orang harus menyaksikan perang dan perang dinegerinya. Keberingasan dilampiaskan pada diri sendiri, saudara sendiri, kerabat sendiri, bangsa sendiri. Ketika setiap orang berpergian di negerinya sendiri, tak henti-hentinya diperiksa, diteliti, dan diteliti lagi. Seolah sampai pada napas yang mendesah alami dari setiap rongga mulut pun harus dicurigai. Masya Allah ! (Ibrahim Kadir) But [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2011/01/tanah-djawa-alf/' rel='bookmark' title='Permanent Link: TANAH DJAWA &#8211; ALF'>TANAH DJAWA &#8211; ALF</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Tetapi mengapa lagi-lagi orang harus menyaksikan perang dan perang dinegerinya. Keberingasan dilampiaskan pada diri sendiri, saudara sendiri, kerabat sendiri, bangsa sendiri. Ketika setiap orang berpergian di negerinya sendiri, tak henti-hentinya diperiksa, diteliti, dan diteliti lagi. Seolah sampai pada napas yang mendesah alami dari setiap rongga mulut pun harus dicurigai. Masya Allah !</em> (Ibrahim Kadir)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><em>But why again and again people have witnessed war and war in the  country. Acts of violence to yourself, your own, your own relatives, the  nation itself. When each person traveling in his own country,  constantly examined, researched, and researched more. Looks like a  breath a sigh on the nature of each of the oral cavity must be  suspected. Masya Allah ! (Ibrahim Kadir)</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/10/01.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1350" title="syair diujung kabut 1" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/10/01-300x157.jpg" alt="" width="300" height="157" /></a>Tahun  1940, disebuah kampung benama Kemili kecamatan Bebesan Aceh Gayo, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Ibrahim Kadir. Bakat seninya sudah terlihat sedari kecil sebagai seorang pemain tari Seudati yang dikemudian hari bakal mengantarkannya menjadi seorang Ceh, seorang seniman yang piawai dalam mencipta syair-syair yang dikenal sebagai seni bertutur atau sering disebut sebagai seni Didong. Kesenian Didong selalu menampilkan dua grup dalam sebuah penampilan untuk saling mengadu ketangkasan kata. Meskipun saling menyerang dengan kata-kata, syair-syair dalam didong mengandung makna yang dalam serta sarat dengan nilai-nilai estetika. Kesenian khas tanah Gayo ini diperkirakan muncul sejak Reje Linge ke 13</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><em>In 1940, a village named Kemili Bebesan Gayo Aceh district</em></span><em><span style="color: #008000;">, was born a  son named Ibrahim Kadir. His artistic talent is seen as a childhood  dance Seudati players will then be escorted into CEH, an artist skilled  in creating poetry known as the art of speaking or often referred to as  art Didong. Didong art always show two groups in the view for each  dexterity words complained of. Although attacked each other with words,  poetry in Didong implies a deep and loaded with aesthetic values. Art  typical soil Gayo Reje thought to arise from Linge to 13</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="color: #008000;"><br />
</span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/10/02.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1352" title="02" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/10/02-265x300.jpg" alt="" width="265" height="300" /></a> Syair di ujung Kabut adalah satu dari sekian banyak karya Ramdiana. Dengan mengambil latar belakang tanah kelahirannya, Ramdiana yang baru saja merampungkan S2 nya di ISI Yogyakarta jurusan penciptaan teater mencoba mengembalikan ingatan kita akan peristiwa pahit tentang korban politik pada masa itu. Sosok Ibrahim Kadir seorang Ceh Didong yang karena kekeliruan ditangkap dan dituduh memberontak bersama PKI.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><em>Poetry at the end of the Mist is one of the many works of Ramdiana.  Given the background of his homeland, Ramdiana S2, which recently  completed the creation in ISI Yogyakarta majoring in theatre trying to restore the bitter memories of victims of political events at  that time. The figure of Ibrahim Kadir, a CEH Didong deliberately  arrested and accused of rebellion with the PKI.</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><em><br />
</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">22 hari Ibrahim Kadir dipenjara. Selama dalam tahanan inilah sebuah kisah terkuak. Ibrahim Kadir melihat pembantaian demi pembantaian terjadi. Ia menjadi saksi dari kebiadaban itu. Melalui syair-syairnya yang ia tulis selama mendekam dipenjara, Ibrahim Kadir menceritakan pembantaian yang setiap hari ia saksikan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><em><a href="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/10/03.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1353" title="03" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/10/03-300x186.jpg" alt="" width="300" height="186" /></a></em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><em>Ibrahim Kadir, 22 days in jail. While in the custody of here is the story unfolds. Ibrahim Kadir see carnage after the massacre. He witnessed the barbarity. Through his poems he wrote during the time in prison, Ibrahim Kadir described the massacre that he witnessed every day.</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Inilah yang barangkali membuat Ramdiana berani dan mampu menyuguhkan sebuah pementasan dengan apik. Alur cerita yang kuat dan saksi kunci yang masih hidup. Dengan merujuk pada syair-syair serta kisah hidup Ibrahim Kadir yang akhirnya selamat dari pembantaian peristiwa pada masa itu sebuah sejarah dibuka.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><em><a href="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/10/04.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1354" title="04" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/10/04-300x210.jpg" alt="" width="300" height="210" /></a></em></span><em><span style="color: #008000;">This is what probably makes Ramdiana brave and able to play with the smooth. Strong storyline and key witnesses still alive. With reference to the poems and the life story of Ibrahim Kadir, which ultimately survived the massacre events of that time. Part of the story unfolds eventually returns.</span></em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Konsep pertunjukan yang ditawarkan Ramdiana cukup menarik. Permainan lighting minimalis serta properti karung goni, mondar-mandir diangkut para pemain yang berperan sebagai kuli panggul. <a href="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/10/05.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1355" title="05" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/10/05-300x149.jpg" alt="" width="300" height="149" /></a>Tumpukan karung-karung goni sebagai seting utama, seperti tafsir kejadian pada masa tahun 1950 ketika muncul pergolakan DI/TII yang kemudian disusul meletusnya PKI dimana orang-orang tak bersalah diangkut secara paksa kemudian dipenjara tanpa tahu apa kesalahannya</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><em>The concept of the show suggested that Ramdiana very interesting. Minimalist lighting and ownership of burlap sacks, transporting paced player who acted as porters pelvis. The piles of burlap sacks as the settings key, such as the interpretation of the events during the uprising of 1950, when he learned DI / TII are followed by the eruption of the PKI which they people innocent were taken by force and imprisoned without knowing what the failure.</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><em><a href="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/10/06.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1356" title="06" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/10/06-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></em></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pada pertengahan pertunjukan tiba-tiba muncul  tali-tali tambang yang dijadikan sebagai simbol tiang gantungan bagi para tahanan. Lengkap sudah pertunjukan itu menjadi sebuah tontonan yang tidak hanya sekedar hiburan, melainkan sebuah refleksi akan sebuah kisah yang terjadi di Gayo pada masa itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><em>In the middle of the show suddenly appeared rope mines, which serve as a  symbol of the gallows for prisoners. Complete show has become a  spectacle, which is not just entertainment, but rather a reflection of a story that occurred in the Gayo in the days.</em></span></p>
<p><span style="color: #008000;"><em><a href="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/10/07.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1357" title="07" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/10/07-300x206.jpg" alt="" width="300" height="206" /></a></em></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lewat pementasan teater Syair di ujung Kabut, sepertinya Ramdiana tidak hanya ingin menguak cerita lama yang menjadi trauma masyarakat Gayo tetapi seperti ada pesan tersembunyi bahwa seni Didong adalah seni bertutur yang sarat akan nilai-nilai religius, adat istiadat, semangat nasionalisme serta  jiwa kegotong-royongan yang kuat.</p>
<div id="result_en_fr_nl_id" style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;"><em>Through  the poem at the end of theatrical fog, it seems Ramdiana not just want  to open old history, which has traumatized Gayo society but, as a hidden  message that art is the art of Didong talk which will be full of  religious values, customs, the spirit of nationalism and the spirit of  co-operativity strong. (Kuncoro)<br />
</em></span></div>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>Didong kisah kisah</li><li>nyanyian dipenjara</li><li>syair pembataian</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2011/01/tanah-djawa-alf/' rel='bookmark' title='Permanent Link: TANAH DJAWA &#8211; ALF'>TANAH DJAWA &#8211; ALF</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiaculture.net/2011/10/nyanyian-bui-dari-tanah-gayo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TANAH DJAWA &#8211; ALF</title>
		<link>http://www.indonesiaculture.net/2011/01/tanah-djawa-alf/</link>
		<comments>http://www.indonesiaculture.net/2011/01/tanah-djawa-alf/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 10:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harisetu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Art Variety]]></category>
		<category><![CDATA[Art Liberation Front]]></category>
		<category><![CDATA[Djarot]]></category>
		<category><![CDATA[Nasirun]]></category>
		<category><![CDATA[Priyayis Munandar]]></category>
		<category><![CDATA[Sumartono]]></category>
		<category><![CDATA[tanah djawa]]></category>
		<category><![CDATA[tanah jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiaculture.net/?p=1301</guid>
		<description><![CDATA[Culture in society permanently never stops changing. The identity of the Javanese people, are depressed in the values of cultural and spiritual traditions. In the era of modernity, traditional art is often considered outdated and static. But when the artists lose the creativity and ideas, the visual elements and concepts of cultural traditions &#8211; previously [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/08/art-jog-10/' rel='bookmark' title='Permanent Link: ART [ JOG 10'>ART [ JOG 10</a></li>
<li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2011/10/nyanyian-bui-dari-tanah-gayo/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nyanyian Bui dari  Tanah Gayo'>Nyanyian Bui dari  Tanah Gayo</a></li>
<li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/08/art-exibhit-of-indonesian-childrens/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Art Exibhit of Indonesian Childrens'>Art Exibhit of Indonesian Childrens</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/01/12-copya.jpg"></a><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1311" title="tanah jawa" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/01/12-copyb-300x255.jpg" alt="" width="300" height="255" /></a></p>
<p><span style="color: #008000;"><em>Culture in society permanently never stops changing. The identity of the Javanese people, are depressed in the values of cultural and spiritual traditions. In the era of modernity, traditional art is often considered outdated and static. But when the artists lose the creativity and ideas, the visual elements and concepts of cultural traditions &#8211; previously marginalized just as exotic &#8211; it can be accepted and bring the bright. </em></span></p>
<p>Budaya dalam masyarakat secara permanen tidak pernah berhenti berubah. Identitas orang Jawa memang tertekan pada nilai-nilai budaya tradisi dan spiritualnya. Dalam moderenitas jaman,“seni tradisi” kerap dianggap sudah usang dan statis. Namun ketika seniman kehilangan kreatifitas beserta ide-ide, maka elemen-elemen visual dan konsep dari budaya tradisi &#8211; semula terpinggirkan sebagai eksotisme &#8211; justru dapat diterima dan membawa terang.</p>
<p><span style="color: #008000;"><em>Traditional art also changed dynamic at the same time customary rules came loose &#8211; especially in Java land. Traditional art right now is certainly not the same as artifacts made several hundred years ago. When the world is not yet divide into modern society. Javanese art has gone through a long journey. Begin from architecture and relief of Borobudur, until the beginning of modern art which is represented by Raden Saleh as a pioneer. Affandi dan Sudjojono continues on.</em></span></p>
<p>Seni Rupa Tradisi juga berubah dinamis bersamaan kendurnya aturan adat – terutama di tanah Jawa. Seni Rupa Tradisi sekarang pasti tidaklah sama dengan artefak yang dibuat beberapa ratus tahun yang lalu. Saat dunia belum dibagi dalam masyarakat moderen. Seni Rupa Jawa yang kaya telah melalui perjalanan yang panjang. Mulai dari arsitektur dan relief Borobudur, hingga permulaan seni moderen yang diwakili Raden Saleh sebagai pelopor. Terus berlanjut pada Affandi dan Sudjojono.</p>
<p><em><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1303" title="tanah jawa" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/01/04-copy1-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a><span style="color: #008000;">As the next generation of painters, Hendra Gunawan member of Lembaga Kebudajaan Rakjat (LEKRA). Picture of community life or the villagers as &#8220;Themes Java&#8221; is often colored his paintings. hendra figure portrait in the lettuce song by Yayat Surya, become an important part in the Tanah Djawa Exhibition by Art Liberation Front (ALF) at the National Museum of Yogyakarta awhile ago.</span></em></p>
<p>Sebagai generasi pelukis berikutnya, Hendra Gunawan yang juga anggota Lembaga Kebudajaan Rakjat (LEKRA), Gambaran kehidupan rakyat kecil atau orang kampung sebagai “Tema Jawa” kerap mewarnai lukisan-lukisannya. Potret sosok Hendra dalam The Lettuce Song karyaYayat Surya, menjadi bagian penting dalam Exhibition Tanah Djawa oleh kelompok Art Liberation Front (ALF) di Museum Nasional Yogyakarta beberapa waktu lalu.</p>
<p><span style="color: #008000;"><em>In the exhibition &#8220;Tanah Djawa&#8221; some household items that might have been <a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignright size-medium wp-image-1304" title="tanah jawa" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/01/02-copy-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>removed, now brought back to be processed into works of art. Priyayis Munandar digging tool works. Nasirun, Sumartono, Djarot Setiadi bird cage works, now become an art installation that revealed cultural background. </em></span></p>
<p>Dalam pameran “Tanah Djawa” beberapa obyek keseharian yang mungkin sudah dibuang, kini diambil kembali diolah menjadi karya seni. Alat gali karya Priyayis Munandar dan sangkar burung karya Nasirun, Sumartono, Djarot Setiadi kini menjadi sebuah instalasi seni yang mengungkapkan latar budaya.</p>
<p><span style="color: #008000;"><em>Java does have a practical tendency. Materials that have been discarded, such plastic bottles are reused again to shift the aesthetic and practical functions. Through the impressive work, this becomes the courage to ALF groups and other artists in commenting on the complex and extensive theme. </em></span></p>
<p>Jawa memang memiliki kecenderungan praktis. Bahan-bahan yang sudah dibuang seperti botol plastik masih dipakai lagi dengan peralihan fungsi yang estetis dan praktis. Ini menjadi sebuah keberanian bagi kelompok ALF dan seniman lain dalam mengomentari tema yang rumit dan luas melalui  karya yang mengesankan.</p>
<p><em><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1305" title="tanah jawa" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/01/09-copy-223x300.jpg" alt="" width="223" height="300" /></a><span style="color: #008000;">Gatholoco describe Javanese literary tradition and puppets, also has a charge of Picardy and satire. What the world of puppets have a symbolic dimension, war and jokes as reality.</span></em></p>
<p>Gatholoco menggambarkan tradisi sastra Jawa dan wayang yang juga memiliki muatan kenakalan dan satire. Betapa dunia wayang punya dimensi simbolis, perang (goro-goro) dan lelucon sama seperti kenyataannya.</p>
<p><span style="color: #008000;"><em>In Hindu-Buddhist philosophy, all back again as the cycle of nature and life that never ends, just different forms. Art as a cultural discussion guidelines have an important function. A major challenge for artists brought so great case and sometimes mysterious. Young artists such as ALF group, is still looking for a different aesthetic positions.</em></span></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dalam filosofi Hindu-Budhis, semua kembali lagi seperti siklus alam dan kehidupan yang tidak berakhir, hanya bentuknya yang berbeda. Seni rupa sebagai pedoman diskusi budaya mempunyai fungsi penting. Sebuah tantangan besar untuk seniman yang bertemakan sesuatu yang begitu luas dan terkadang misterius. Seniman muda seperti kelompok ALF tetap mencari posisi estetis yang berbeda. (indonesiaculture.net / Sir Kuncoro)</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/08/art-jog-10/' rel='bookmark' title='Permanent Link: ART [ JOG 10'>ART [ JOG 10</a></li>
<li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2011/10/nyanyian-bui-dari-tanah-gayo/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nyanyian Bui dari  Tanah Gayo'>Nyanyian Bui dari  Tanah Gayo</a></li>
<li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/08/art-exibhit-of-indonesian-childrens/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Art Exibhit of Indonesian Childrens'>Art Exibhit of Indonesian Childrens</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiaculture.net/2011/01/tanah-djawa-alf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Emiria Soenassa (1891-1964)</title>
		<link>http://www.indonesiaculture.net/2011/01/emiria-soenassa-1891-1964/</link>
		<comments>http://www.indonesiaculture.net/2011/01/emiria-soenassa-1891-1964/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Jan 2011 13:34:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harisetu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Art Variety]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiaculture.net/?p=1292</guid>
		<description><![CDATA[indonesiaculture.net &#124; Emiria Soenassa. One of female painters pionner who lived in three age. Not many people who recognize her. Trace its history as reflected in each piece of her artwork. Emiria Soenassa. Salah satu pionner pelukis perempuan yang hidup di tiga jaman. Tidak banyak yang mengenal sosok beliau. Jejak riwayatnya seperti tercermin di setiap [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1293" title="emira" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/01/06-copy-300x143.jpg" alt="" width="300" height="143" /></a></p>
<p><span style="color: #008000;"><em>indonesiaculture.net | Emiria Soenassa. One of female painters pionner who lived in three age. Not many people who recognize her. Trace its history as reflected in each piece of her artwork.</em></span><em> </em></p>
<p>Emiria Soenassa. Salah satu pionner pelukis perempuan yang hidup di tiga jaman. Tidak banyak yang mengenal sosok beliau. Jejak riwayatnya seperti tercermin di setiap karya-karyanya.</p>
<p><span style="color: #008000;"><em>Emiria </em><em>Soenassa who is also an activist involved in</em><em> Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi. Emiria </em><em>Soenassa registered as Tidore Queen. Emiria Soenassa also attended the Round Table Conference of the United Nations in New York in 1949. Emiria Soenassa as symbolic leader of the Dutch Papua New Guinea, Papua now.</em></span></p>
<p>Emiria Soenassa yang juga seorang aktifis, terlibat dalam Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi. Emiria Soenassa terdaftar sebagai Ratu Tidore. Emiria Soenassa juga pernah menghadiri Konferensi Meja Bundar PBB di New York pada tahun 1949. Emiria Soenassa berperan sebagai pemimpin simbolis dari rakyat Papua Nugini Belanda, yang sekarang menjadi Papua.</p>
<p><em><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="size-medium wp-image-1294 alignleft" title="emira" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/01/01-copy2-198x300.jpg" alt="" width="198" height="300" /></a><span style="color: #008000;">As member of Parsagi, driven by Soedjojono and Affandi. Emiria Soenassa also fought in the world of Indonesian art painter from male domination that dominates the art discourse at the time.</span></em><span style="color: #008000;"><em> Persagi rejected by hard &#8211; style Indie Moie. An atmosphere of calm, quiet, beautiful and far from the turmoil that is called the characteristic style of India moie pictures. to be too dependent on western. Persagi pursue related forms of social realism became the focus of nationalism.</em></span></p>
<p>Sebagai anggota Persagi yang dimotori oleh Soedjojono dan Affandi, Emiria Soenassa juga berjuang dalam dunia seni rupa Indonesia atas dominasi pelukis laki-laki yang menguasai wacana seni rupa saat itu. Persagi menolak dengan keras gaya Moie Indie (<em>suasana tenang, teduh, indah dan jauh dari gejolak inilah yang kelak disebut-sebut sebagai ciri lukisan bergaya moie indie</em>) yang dianggapnya terlalu bergantung pada barat. Persagi mengejar sebuah bentuk realisme yang terkait secara sosial untuk menjadi fokus nasionalisme, dan ini diamini oleh Emiria.</p>
<p><span style="color: #008000;"><em>Her consistency in the style of painting, much get excoriation. Exhibition Persagi at the club in the Dutch art in 1941, Emiria Soenassa received insults from Velthuizen &#8211; who calls her work as a fake fan of Van Gogh and the modernist.</em></span></p>
<p>Konsistensinya dalam gaya melukis Banyak menumbuhkan kritik pedas. Dalam pameran Persagi di klub seni Belanda pada tahun 1941, Emiria Soenassa mendapat penghinaan dari Velthuizen, seorang kritikus Belanda yang menyebut karyanya sebagai penggemar palsu Van Gogh dan kaum Modernis.</p>
<p><em><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignright size-medium wp-image-1295" title="04 copy" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/01/04-copy-300x249.jpg" alt="" width="300" height="249" /></a><span style="color: #008000;">More importantly for </span></em><span style="color: #008000;"><em>Emiria Soenassa to expressive a figure, and not follow the rigid structures. A power that emanated in every work Emiria </em><em>Soenassa is freedom. Scratch in each of her work is very natural naive and primitive. Spontaneous brushwork, large, dark color combinations and processing of primary colors and contrast appear just like that in every painting.</em></span></p>
<p>Bagi  Emiria Soenassa lebih penting mengekspresikan diri seseorang daripada mengikuti struktur teknik yang kaku. Satu kekuatan yang terpancar pada setiap karya Emiria Soenassa adalah Kebebasan. Goresan-goresan disetiap karyanya sangat natural, naif dan primitif. Goresan kuas yang spontan, besar, kombinasi warna gelap serta pengolahan warna primer dan kontras muncul begitu saja disetiap karya lukisnya.</p>
<p><span style="color: #008000;"><em>During the Japanese colonial period, </em><em>Keimin Bunka Shodosho an organization founded by Japan in 1943 to preserve art and culture, give </em><em>Saiko Sjiki Kah Sjo award for her painting entitled Pasar or markets. </em><em>Djawa Shunbun Sjo Award for “Angklung”.</em></span></p>
<p><em> </em></p>
<p>Selama masa pendudukan Jepang, Keimin Bunka Shodosho, sebuah organisasi yang didirikan oleh Jepang pada tahun 1943 untuk memelihara kesenian dan kebudayaan, memberikan penghargaan Saiko Sjiki Kah Sjo untuk lukisannya yang berjudul “Pasar” dan Djawa Shunbun Sjo untuk “Angklung”.</p>
<p><em><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1296" title="05 copy" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/01/05-copy-150x300.jpg" alt="" width="150" height="300" /></a><span style="color: #008000;">Soedjojono give applause and praise to Emiria </span></em><span style="color: #008000;"><em>Soenassa. “Of having attended a woman who is more man to man himself in this country, who expose herselves to speak to us about her life, about human, about the world around her. She ignores all the rules of perspective, anatomy of any moral theory all limits in life &#8211; she rid, kick right and left, shouting, yelling to talk to us. All of her paintings surprise us, something we did not expect before, all things new. She was like a volcano exploding or sleep when she wants it. We can only wait we can not predict. And herself can only say, this is what I can do. It’s truly character of a genius.</em></span></p>
<p>Soedjojono memberikan aplaus dan pujian kepada Emiria. <em>Telah hadir seorang perempuan yang lebih laki-laki daripada laki-laki itu sendiri dinegara ini, yang menelanjangi dirinya untuk berbicara pada kita tentang hidupnya, tentang umat manusia, tentang dunia disekitarnya. Ia mengabaikan segala aturan mengenai perspektif, anatomi segala teori, moral, segala batas dalam hidup ia singkirkan, menendang kekanan dan kekiri, menjerit, berteriak untuk berbicara pada kita. Semua lukisannya mengejutkan kita, sesuatu yang tidak kita duga sebelumnya, segalanya baru. Ia seperti gunung berapi meledak atau tidur saat ia menginginkannya. Kita hanya dapat menunggu, kita tidak bisa meramalkannya. Dan ia sendiri hanya dapat mengatakan,’ Semua inilah yang bisa kulakukan’. Benar-benar karakter seorang jenius.</em></p>
<p><span style="color: #008000;"><em>As loner Emiria is a person who never talked about his life. In the 1950s, she disappeared without a trace and made everyone wonder. Only a few years later tracked his existence that he died in Lampung in 1964. As a pioneer of women artists, Indonesia should be proud or even just keep quiet?</em></span></p>
<p>Sebagai pribadi yang penyendiri Emiria tidak pernah berbicara mengenai hidupnya. Di akhir tahun 1950, ia menghilang tanpa jejak dan membuat semua orang bertanya-tanya. Baru beberapa tahun kemudian keberadaannya terlacak bahwa ia meninggal di Lampung Sumatera tahun 1964<em>. </em>Diluar negeri nama Emiria Soenassa cukup dikenal, sedang di negerinya sendiri hanya segelintir orang yang tahu. Sebagai perintis pelukis perempuan  sepatutnya Indonesia bangga atau malah hanya diam saja? (indonesiaculture.net/Sir Kuncoro)</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>Nama-nama pelukis wanita sedunia</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiaculture.net/2011/01/emiria-soenassa-1891-1964/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Support the privilege of Jogja</title>
		<link>http://www.indonesiaculture.net/2011/01/support-the-privilege-of-jogja/</link>
		<comments>http://www.indonesiaculture.net/2011/01/support-the-privilege-of-jogja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Jan 2011 13:20:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harisetu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selection Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiaculture.net/?p=1284</guid>
		<description><![CDATA[As one form of solidarity action supporting the privilege Jogjakarta, java tattoo club held a mass for free tattoo. Through a permanent tattoo palace pictorial symbol, tattoo artists try to show how much indeed very special of Jogjakarta. Jogjakarta is very multicultural city, openness in the opinion includes a very high appreciation of art. Sebagai [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/01/biennale-x-jogja-jamming/' rel='bookmark' title='Permanent Link: BIENNALE X JOGJA JAMMING'>BIENNALE X JOGJA JAMMING</a></li>
<li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/10/jogja-international-street-performance/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jogja International Street Performance'>Jogja International Street Performance</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1285" title="tato kraton yk" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/01/10-copy-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
<p><span style="color: #008000;"><em>As one form of solidarity action supporting the privilege Jogjakarta, java tattoo club held a mass for free tattoo. Through a permanent tattoo palace pictorial symbol, tattoo artists try to show how much indeed very special of Jogjakarta. Jogjakarta is very multicultural city, openness in the opinion includes a very high appreciation of art. </em></span></p>
<p>Sebagai salah satu bentuk aksi solidaritas dukung keistimewaan Jogjakarta, Java Tattoo Club menggelar acara tato massal gratis. Melalui tato permanent bergambar lambang keraton, para seniman tato coba menunjukkan betapa Jogja memang sangat istimewa. Jogja yang sangat multikultural, keterbukaan dalam berpendapat termasuk apresiasi yang sangat tinggi pada seni.</p>
<p><em><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignleft size-full wp-image-1288" title="03 copy" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/01/03-copy1.jpg" alt="" width="283" height="190" /></a><span style="color: #008000;">Body pain while making a tattoo is an expression of reaction to central government action over the privilege of Jogja. When a part of body injured, the other part of the body have been wounded, in this case the Jogja people. &#8220;For us the tattoo of mass action is a response from our pain because the government is hurting the privilege of Jogja,&#8221; Clearly Atonk, president of Java Tattoo Club.</span></em></p>
<p>Rasa sakit tubuh ketika dirajah adalah ungkapan reaksi atas tindakan pemerintah pusat atas keistimewaan Jogja. Ketika organ tubuh dilukai, maka organ lainnya pasti akan merasa tersakiti pula, dalam hal ini masyarakat Jogja. “Bagi kami aksi tato massal ini adalah respon dari kesakitan kami karena pemerintah melukai keistimewaan Jogja,”Jelas Atonk, President Java Tatto Club.</p>
<p><em><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="size-full wp-image-1289 alignright" title="01 copy" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2011/01/01-copy1.jpg" alt="" width="283" height="279" /></a><span style="color: #008000;">Our support of privileges Jogjakarta does not mean to override Indonesia. We just tried to keep Jogja inside of Indonesia Nation. Jogja NKRI. Maintain privileges jogjakarta means also supports full  Sri Sultan Hamengku Buwono ke X and Paku Alam IX as Governor and Vice of Daerah Istimewa Yogyakarta”, added Atonk. </span></em></p>
<p>Dengan kita mendukung keistimewaan Jogjakarta bukan berarti mengesampingkan Indonesia. Justru kita berusaha mempertahankan Jogja berada didalam Indonesia, Jogja NKRI. “mempertahankan keistimewaan Jogjakarta berarti juga mendukung penuh penetapan Sri Sultan Hamengku Buwono ke X dan Paku Alam IX sebagai gubernur dan <span style="color: #000000;">wakil gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta”, Tambah Atonk.</span></p>
<p><em><span style="color: #008000;">Action that was held in the courtyard of this castle Vredeburgh has received many responses <span style="color: #008000;">from peoples who came from just looking by, asked about the tattoo to give up his body tattooed. Severa</span></span><span style="color: #008000;">l musicians also supports the action by providing acoustic music entertainment</span></em></p>
<p>Aksi yang digelar dipelataran benteng Vredeburgh ini ternyata mendapat respon dari masyarakat yang banyak berdatangan dari sekedar melihat-lihat, bertanya seputar tato hingga merelakan tubuhnya dirajah. Beberapa kawan-kawan musisi juga mendukung aksi dengan memberikan hiburan musik akustik<em>. (indonesiaculture.net/Sir Kuncoro) </em></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/01/biennale-x-jogja-jamming/' rel='bookmark' title='Permanent Link: BIENNALE X JOGJA JAMMING'>BIENNALE X JOGJA JAMMING</a></li>
<li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/10/jogja-international-street-performance/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jogja International Street Performance'>Jogja International Street Performance</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiaculture.net/2011/01/support-the-privilege-of-jogja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Angklung, World’s Intangible Cultural Heritage</title>
		<link>http://www.indonesiaculture.net/2010/12/angklung-world%e2%80%99s-intangible-cultural-heritage/</link>
		<comments>http://www.indonesiaculture.net/2010/12/angklung-world%e2%80%99s-intangible-cultural-heritage/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 11:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harisetu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selection Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiaculture.net/?p=1265</guid>
		<description><![CDATA[As certification of angklung as the 4th world’s Intangible Cultural Heritage from Indonesia, Pameran Purwa Angklung Indonesia dedicated to introduce the treasure of angklung’s rich culture to the world. It’s main aims are to expand the knowledge about the history, development, function of angklung primarily to engage with an international and national audience. Dalam rangka [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/01/angklung-bamboo%e2%80%99s-vivid-sounds/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Angklung, Bamboo’s Vivid Sounds'>Angklung, Bamboo’s Vivid Sounds</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1266" title="D2H_3393 copy" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/12/D2H_3393-copy-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p><span style="color: #008000;">As certification of angklung as the 4<sup>th</sup> world’s Intangible Cultural Heritage from Indonesia, Pameran Purwa Angklung Indonesia dedicated to introduce the treasure of angklung’s rich culture to the world. It’s main aims are to expand the knowledge about the history, development, function of angklung primarily to engage with an international and national audience.</span></p>
<p><em>Dalam rangka peresmian Angklung sebagai warisan dunia tak benda ke-4 asal Indonesia., Pameran Purwa Angklung merupakan upaya untuk memperkenalkan khazanah budaya Angklung. Sekaligus untuk membuka cakrawala mengenai sejarah, perkembangan, dan fungsi Angklung tidak hanya bagi masyarakat Indonesia tetapi juga dunia.</em></p>
<p><span style="color: #008000;"><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1269" title="D2H_3384 copy" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/12/D2H_3384-copy-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>The word Angklung originated from two words angka and lung. Angka means tone, and lung means broken or lost. Angklung then means as an incomplete tone (Soepandi and Atmadibrata, 1977;12). Made of bamboo an ancient plant which has provided various benefits for human beings, Angklung has become a symbol Indonesia’s unique culture, especially in Wast java (sunda).</span></p>
<p><em>Secara etimologis, kata Angklung berasal dari kata angka, yaitu berarti nada, dan kata lung yang berarti patah atau hilang. Berdasarkan pengertian tersebut, Angklung kemudian dapat dikatakan sebagai nada atau laras yang tidak lengkap (Soepandi dan Atmadibrata,1977:12). Terbuat dari bamboo yang merupakan tanaman purba yang memberi banyak manfaat bagi manusia, Angklung telah turut mengukir wajah budaya Indonesia, khususnya Jawa Barat.</em></p>
<p><span style="color: #008000;">The Angklung is also one the primary art resources which plays a significant role in ritual ceremonies, association, entertainment, and performances which show the valuable way of life. The Angklung philosophy which is known as 5M- Mudah (easy), Meriah (Cheerful), Menarik(Interesting), Mendidik (Educative), and Massal (Massive) has made angklung more popular across the world today.</span></p>
<p><em>Selain itu, Angklung juga merupakan salah satu sumber daya yang melahirkan karya seni sebagai sarana pengantar upacara-upacara ritual, pergaulan, hiburan, tontonan dengan pengungkapan nilai-nilai pandangan hidup. Filosofi angklung yang dikenal dengan 5M ; mudah, meriah, menarik, mendidik, dan massal membuat angklung kini makin digemari di seluruh penjuru dunia.</em></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>angklung</li><li>Filosofi angklung</li><li>indonesia intangible cultural heritage</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/01/angklung-bamboo%e2%80%99s-vivid-sounds/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Angklung, Bamboo’s Vivid Sounds'>Angklung, Bamboo’s Vivid Sounds</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiaculture.net/2010/12/angklung-world%e2%80%99s-intangible-cultural-heritage/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nan Jombang &#8211; Rantau Berbisik</title>
		<link>http://www.indonesiaculture.net/2010/11/nan-jombang-rantau-berbisik/</link>
		<comments>http://www.indonesiaculture.net/2010/11/nan-jombang-rantau-berbisik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Nov 2010 12:02:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin2</dc:creator>
				<category><![CDATA[MOTION]]></category>
		<category><![CDATA[nan jombang]]></category>
		<category><![CDATA[rantau berbisik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiaculture.net/?p=1248</guid>
		<description><![CDATA[Indonesian Culture&#124;indonesiaculture.net Nan Jombang Performances opened with so quiet ambience, the stage resembles a Padang restaurant complete by seat position. A man dancing on a table emerged with a slow movement. Followed by other dancers who move the dish rack that raises the sounds and jingling uniform interpreted by dancers. The silence dance increasingly produced [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1249" title="NCD_0508 ok" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/11/NCD_0508-ok4-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a></p>
<p>Indonesian Culture|indonesiaculture.net <span style="color: #008000;">Nan Jombang Performances opened with so quiet ambience, the stage resembles a Padang restaurant complete by seat position. A man dancing on a table emerged with a slow movement. Followed by other dancers who move the dish rack that raises the sounds and jingling uniform interpreted by dancers. The silence dance increasingly produced clapping sound getting louder.</span></p>
<p><em>Pentas Nan Jombang dibuka dengan suasana yang begitu hening, tata panggung menyerupai Rumah Makan Padang. Rak piring, meja makan lengkap dengan kursi. Muncul seorang pria menari diatas meja dengan gerakan yang lambat, diikuti dengan penari-penari lain yang menggeser rak piring sehingga memunculkan bunyi-bunyian dan dentingan yang dimainkan seragam oleh para penari. Tarian yang hening lama-lama mengeluarkan tepuk-tepukan yang makin lama makin kencang.</em></p>
<p><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1250" title="NCD_0488 ok" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/11/NCD_0488-ok-201x300.jpg" alt="" width="201" height="300" /></a><span style="color: #008000;">Atmosphere that was Ery Mefri built, able to make a tension of the audience. Performed without any musical accompaniment, Nan Jombang utilized all existing properties maximally. He dinning room until the Minang sarong with typical motifs table load into a sharp instrument.</span></p>
<p><em>Atmosfer yang dibangun oleh Ery Mefri mampu membuat penonton tegang. Tampil tanpa ada musik pengiring, Nan Jombang memanfaatkan semua properti yang ada dengan maksimal. Meja makan hingga kain sarung motif khas Minang yang dikenakan menjadi bunyi-bunyian yang tajam.</em></p>
<p><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignright size-medium wp-image-1251" title="NCD_0373 ok" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/11/NCD_0373-ok-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a><span style="color: #008000;">Whispering of Exile, the title of a creation from the choreographer ery mefri, tells about the life model of Minang society tradition of West Sumatra who likes to wander into various areas to improve living standards. As well as part of a journey of culture and tradition, the stage setting resembles as Padang Restaurant, the Nan Jombang dancers express an activity in restaurants throughout the territory  of Indonesia</span></p>
<p><em>Rantau Berbisik, judul dari karya koreografer Ery Mefri, bercerita tentang pola kehidupan tradisi masyarakat minang Sumatra Barat yang gemar merantau ke berbagai daerah untuk guna meningkatkan taraf hidup. Sekaligus sebagai bagian dari sebuah perjalanan budaya dan tradisi. Setting  panggung layaknya sebuah Rumah Makan Padang, para pemain Nan Jombang mengekpresikan sebuah kesibukan di rumah makan yang tersebar di seantero daerah Indonesia. </em></p>
<p><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="size-medium wp-image-1252 alignleft" title="NCD_0479 ok" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/11/NCD_0479-ok-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a><span style="color: #008000;">Nan Jombang Female dancers acting deftly dishes pile up in his arms to serve customers. Not less noisy, traditions Minang movement, such as martial arts and randai also become an important part. Dancers move in unison with a running, jumping and salto. the choreographer Ery Merfy, successfully combined the dance moves from his homeland, Minang with modern elements of ballet and yoga.</span></p>
<p><em>Penari perempuan Nan Jombang beraksi tangkas dengan piring bertumpuk-tumpuk di kedua lengannya melayani pelanggan. Tak kalah riuh, gerak tradisi Minang seperti silat dan randai juga menjadi bagian penting. Penari bergerak serempak dengan berlari, melompat, dan bersalto. Ery Merfy sang koreografer, berhasil memadukan gerak tari dari tanah kelahirannya, Minang dengan unsur-unsur modern balet dan yoga.</em></p>
<p><span style="color: #008000;">This dance is also closing event of Art Summit Indonesia (ASI) IV 2010. ASI is an intrenational musics, dances, dan theatre festival that was held every three years. The event of this sixth year ASI shows ten groups from South Korea, the United  States, Austria, the Netherlands and Indonesia.</span></p>
<p><em>Tarian ini sekaligus menutup ajang Art Summit Indonesia (ASI) IV 2010. ASI adalah festival musik, tari dan teater bertaraf internasional yang digelar 3 tahun sekali. Pada penyelenggaraan tahun ke-6 ini ASI menampilkan 10 grup dari Korea Selatan, Amerika Serikat, Austria,Belanda dan Indonesia sendiri.</em></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>Dance bersalto</li><li>rantau berbisik</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiaculture.net/2010/11/nan-jombang-rantau-berbisik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Love Me or Die&#8221; &#8211; Entang Wiharso</title>
		<link>http://www.indonesiaculture.net/2010/11/love-me-or-die-entang-wiharso/</link>
		<comments>http://www.indonesiaculture.net/2010/11/love-me-or-die-entang-wiharso/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 11:53:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harisetu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Art Variety]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiaculture.net/?p=1212</guid>
		<description><![CDATA[Indonesian Culture &#124; indonesiaculture.net &#8220;Love Me or Die&#8221; invites the question why Entang Wiharso chose this title for his solo exhibition at the National Gallery. As the question &#8220;Love Me or Die&#8221; shows the power that does not give a choice. Not just ask for compliance, this question requires a result of a fatal love [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1213" title="entang1" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/11/D2H_2952-copy-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a></p>
<p>Indonesian Culture | <a href="../">indonesiaculture.net</a></p>
<p><span style="color: #008000;">&#8220;Love Me or Die&#8221; invites the question why Entang Wiharso chose this title for his solo exhibition at the National Gallery. As the question &#8220;Love Me or Die&#8221; shows the power that does not give a choice. Not just ask for compliance, this question requires a result of a fatal love of truth can not be imposed. In the past, when there is no limit the power of kings &#8211; just to the tyrant who had said that.</span></p>
<p><em>“Love Me or Die” mengundang pertanyaan mengapa Entang Wiharso memilih tajuk ini untuk pameran tunggalnya di Galeri Nasional. Sebagai pertanyaan “Love Me or Die” menunjukkan  kekuasaan yang tidak memberikan pilihan. Bukan Cuma minta kepatuhan, pertanyaan ini menuntut dengan akibat fatal cinta yang sebenarnya tidak bisa dipaksakan. Di masa lalu ketika kekuasaan raja-raja seperti tidak ada batasnya cuma para Tiran yang bilang begitu.</em></p>
<p><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1214" title="entang2" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/11/D2H_2953-copy-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a><span style="color: #008000;">This work Entang want to show the love that contains a paradox. How love evolved into a sense of belonging and how ownership can be a desire to dominate. &#8220;When the desire to master the extreme limits of love with violence to be thin,&#8221; he said.  Love will be a weakness in the face of strength and a sense of power will become increasingly violent in the face of love that turns into fear.</span></p>
<p><em>Karya ini ingin menampilkan cinta yang mengandung paradoks. Bagaimana cinta berkembang ke rasa memiliki dan bagaimana rasa memiliki bisa menjadi hasrat menguasai. “Ketika hasrat menguasai menjadi ekstrim batas di antara cinta dengan kekerasan menjadi tipis,”katanya. Cinta akan menjadi kelemahan di hadapan kekuasaan dan rasa berkuasa akan menjadi semakin beringas ketika menghadapi cinta yang berubah menjadi ketakutan.</em></p>
<p><span style="color: #008000;">Although Entang not specifically say it, the sentence and his works show about the life circumstances that reflect the society in his homeland. Entang Vision sharp enough to select the problem &#8211; that topic strength of this exhibition as a sign that means the countries facing the community.</span></p>
<p><em>Kendati Entang tidak secara khusus mengutarakannya, ungkapan dan karya-karyanya menunjukkan keadaan di sekitar kehidupan yang mencerminkan keadaan masyarakat di tanah airnya. Visi Entang cukup tajam memilih masalah kekuasaan-topik pameran ini-sebagai tanda bermakna keadaan masyarakat yang dihadapinya</em>.</p>
<p><span style="color: #008000;">But probably not see it as a problem of abuse of power which had often read &#8211; in </span><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignright size-medium wp-image-1215" title="entang3" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/11/D2H_2922-copy-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a><span style="color: #008000;">the history of Indonesia all leadership involves power abuse. Entang feel there are more fundamental than the social issues. He is like asking, where is the base of this power problem. whether in social political system or on the mentality of the society. He then saw &#8220;circle of care&#8221; and here he found no authority but &#8220;the ruling passion.&#8221;</span></p>
<p><em>Namun ia cenderung tidak melihatnya sebagai persoalan penyalah-gunaan kekuasaan yang sudah sering dibacakan &#8211; dalam sejarah Indonesia semua kepemimpinan melibatkan power abuse. Entang merasa ada yang lebih mendasar daripada persoalan sosial ini. Ia seperti bertanya, dimanakah pangkal persoalan kekuasaan ini. Apakah pada system sosial politik, atau pada mentalitas masyarakatnya. Ia kemudian mencarinya di “lingkaran hati” dan di sini bukan kekuasaan yang ditemukannya tapi “hasrat berkuasa”.</em></p>
<p><span style="color: #008000;">The paradox at work Love Me or Die, that shows Entang inspiration looking for a love affair with power-ask what if they appear as a paradox. This search is very unusual even unimaginable for the love and power is almost diametrically different.</span></p>
<p><em>Paradoks pada karya Love Me or Die yang menunjukan inspirasi Entang mencari hubungan cinta dengan kekuasaan-bertanya bagaimana kalau keduanya tampil sebagai paradoks. Pencarian ini sangat tidak lazim bahkan tidak terbayangkan karena cinta dan kekuasaan berbeda hampir secara diametral.</em></p>
<p><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1216" title="entang4" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/11/D2H_2937-copy-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a><span style="color: #008000;">Love problems of internal world. Love shows a personal relationship of two beings who give each other away from demanding. Love is not self-centered. Love makes a person out of himself and put a loved one. While the power it always egocentric. In individuals, groups and even in these institutions, power is always suspicious of &#8220;others&#8221;. Most often due to a paranoid fear his power shall be taken. On this power Entang not find the heart of love and spirituality.</span></p>
<p><em>Cinta persoalan dunia internal. Cinta menunjukan hubungan personal dua insan yang saling memberi dan jauh dari saling menuntut. Cinta tidak egosentris. Cinta membuat seseorang keluar dari dirinya sendiri dan mengutamakan orang yang dicintai. Sementara itu kekuasaan justru selalu egosentris. Pada individu, pada kelompok bahkan pada instansi, kekuasaan selalu mencurigai “orang lain” (others). Paling sering karena ketakutan yang paranoid, kekuasaannya akan direbut. Pada kekuasaan ini Entang tidak menemukan hati, cinta dan spiritualitas.</em></p>
<p>Jim Supangkat / Curator.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>Entang Wiharso</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiaculture.net/2010/11/love-me-or-die-entang-wiharso/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Storytelling Festival</title>
		<link>http://www.indonesiaculture.net/2010/11/storytelling-festival/</link>
		<comments>http://www.indonesiaculture.net/2010/11/storytelling-festival/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 08:57:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harisetu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selection Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiaculture.net/?p=1208</guid>
		<description><![CDATA[The kids jump on stage like a fox &#8211; the narrative shows that Ingenious Weasel. Followed by, some of the children bow to bend his body to show the story Why Shrimp Body Bent. Anak-anak berlompatan diatas panggung Festival Bercerita layaknya musang &#8211; memeragakan bagian narasi Ampak dan Musang yang Cerdik. Disusul beberapa anak membungkuk-bungkukkan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2009/11/coffee-festival-at-wijaya-street/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Coffee Festival at Wijaya Street'>Coffee Festival at Wijaya Street</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1209" title="brcrita" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/11/brcrta-300x210.jpg" alt="" width="300" height="210" /></a></p>
<p><span style="color: #008000;">The kids jump on stage like a fox &#8211; the narrative shows that Ingenious Weasel. Followed by, some of the children bow to bend his body to show the story Why Shrimp Body Bent.</span></p>
<p><em>Anak-anak berlompatan diatas panggung Festival Bercerita layaknya musang &#8211; memeragakan bagian narasi Ampak dan Musang yang Cerdik. Disusul beberapa anak membungkuk-bungkukkan badannya memeragakan bagian narasi Mengapa Tubuh Udang Bengkok.</em></p>
<p><span style="color: #008000;">Shrimp behavior knowingly and did not want to ask, not just cuteness for the children who accompanied their parents and teachers, But take a lesson about the importance of asking questions and find out when we do not know.</span></p>
<p><em>dalam Festival Bercerita kali ini, Tingkah laku udang yang sok tahu dan tak mau bertanya, bukan saja menjadi kelucuan bagi anak-anak yang didampingi para orang tua dan guru mereka, namun membawa pelajaran tentang pentingnya bertanya dan mencari tahu disaat kita memang tidak tahu.</em></p>
<p><span style="color: #008000;">Meant more deep, on the character we found in richness folk tales and the heroism of Indonesia.</span></p>
<p><em>Makna lebih dalam lagi, tentang budi pekerti akan kita temui dalam kekayaan cerita-cerita rakyat dan kepahlawanan Indonesia. </em></p>
<p><span style="color: #008000;">The performed of  Lazuardi Elementary Scholl and  Aisyiyah 13 kindergarten school, Become part of the Storytelling Festival IX, held by Kelompok Pencinta Bacaan Anak or Child reading lovers Group (KPBA) in collaboration with Bentara Budaya Jakarta and Grasindo.</span></p>
<p><em>Penampilan anak-anak Sekolah Dasar Lazuardi dan Taman Kanak-kanak Aisyiyah 13 tadi &#8211; menjadi bagian acara dari Festival Bercerita IX yang diselenggarakan Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) bekerja sama dengan Bentara Budaya Jakarta dan Grasindo.</em></p>
<p><span style="color: #008000;">Storytelling Festival aims to preserve the culture of reading in Indonesian and children are increasingly recognize the diversity of the archipelago. In an era of modernization and the increasingly sophisticated technology, the children of Indonesia should remain taught to know and love the story about the country through reading quality books.</span></p>
<p><em>Festival Bercerita bertujuan melestarikan budaya membaca bahasa Indonesia dan anak-anak semakin mengenal keragaman Nusantara. Di era modernisasi dan teknologi yang semakin canggih ini, anak-anak Indonesia harus tetap diajarkan untuk mengenal dan mencintai cerita dari negerinya melalui buku bacaan yang bermutu. </em></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>story telling indonesia</li><li>story telling</li><li>indonsistory telling</li><li>kelompok pencinta bacaan anak</li><li>story telinng about indonesia culture</li><li>storytelling and reading culture</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2009/11/coffee-festival-at-wijaya-street/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Coffee Festival at Wijaya Street'>Coffee Festival at Wijaya Street</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiaculture.net/2010/11/storytelling-festival/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LEGEND OF PAPER</title>
		<link>http://www.indonesiaculture.net/2010/11/legend-of-paper/</link>
		<comments>http://www.indonesiaculture.net/2010/11/legend-of-paper/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Nov 2010 08:45:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harisetu</dc:creator>
				<category><![CDATA[MOTION]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiaculture.net/?p=1200</guid>
		<description><![CDATA[Indonesian Culture &#124; indonesiaculture.net A little boy was engrossed playing robot in a middle of the stage. Silences eliminate the figure, happy girls appear happily by playing planes made of paper recalls our childhood memory game, running around with joyous plays paper plane. Bocah kecil asyik memainkan robot ditengah panggung. Suasana hening menghilangkan sosoknya, muncul [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1201" title="kertas1" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/11/NCD_9884-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Indonesian Culture | <a href="../">indonesiaculture.net</a></p>
<p><span style="color: #008000;"><em><em>A little boy was engrossed playing robot in a middle of the stage. Silences eliminate the figure, happy girls appear happily by playing planes made of paper recalls our childhood memory game, running around with joyous plays paper plane.</em></em></span></p>
<p><em>Bocah kecil asyik memainkan robot ditengah panggung. Suasana hening menghilangkan sosoknya, muncul gadis-gadis dengan riang bermain pesawat-pesawatan yang terbuat dari kertas mengingatkan kembali memori permainan semasa kecil kita, berlari kesana kemari dengan riang gembira memainkan pesawat kertas.</em></p>
<p><span style="color: #008000;"><em>That night, papers fulfill the ballroom, scattered speak restless heart to heart talk to us. The Legend of Paper describes the expression of its civilization displaced by the plastic and digitization era. paper does not become another important part anymore &#8211; disclosed in the motion of dancers carrying stacks of paper with both hands like carrying a corpse that has been in the shroud.</em></span></p>
<p><em>Malam itu, kertas memenuhi seisi ruang, berserak berbicara resah hati ke hati pada kita. Legenda kertas menggambarkan ungkapan tergesernya peradaban oleh era digitalsasi dan plastik. Kertas tidak menjadi bagian penting lagi &#8211; diungkapkan dalam gerak penari membopong tumpukan kertas dengan kedua tangannya seperti membawa mayat yang telah dikafankan.</em></p>
<p><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1202" title="kertas2" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/11/NCD_9905-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
<p><span style="color: #008000;">F</span><span style="color: #008000;">or Setiawan Sabana, , the Legend of Paper, visual stylist. Globalization characterized by the role of something digital surface. World of paper immediately replaced with digital role has now taken over the role of paper.</span></p>
<p><em>Bagi Setiawan Sabana, penata rupa Legenda Kertas, globalisasi ditandai dengan peran sesuatu yang digital muncul ke permukaan. Dunia kertas segera digantikan dengan peran digital yang kini telah mengambil alih peran para kertas-kertas.</em></p>
<p><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignright size-medium wp-image-1203" title="kertas3" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/11/NCD_9935-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
<p><span style="color: #008000;">The appreciation from the lovers of art for Sanggar Tari Sekar Kliwon, in The Legend of Paper at Art Summit Indonesia VI 2010 this time. Paper is something new and interesting because there has not been staging the previous paper as the media says. The Legend of Paper is a collaborative work by Setiawan Sabana (visual artist), Mas Nanu Muda (choreographer), and Dodong Kodir (sound artits) held at the height of appreciation of contemporary art in Indonesia.</span></p>
<p><em>Apresiasi dari para pecinta dan penggiat seni untuk Sanggar Tari Sekar Kliwon, dalam Legenda Kertas di ajang Art Summit Indonesia VI 2010 kali ini. Kertas adalah hal baru dan menarik karena sebelumnya belum ada pementasan kertas sebagai media ungkap. Legenda kertas merupakan karya kolaborasi Setiawan Sabana (tata rupa), Mas Nanu Muda (sutradara/gerak), dan Dodong Kodir (tata bunyi) digelar pada puncak apresiasi seni kontemporer di Indonesia.</em></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiaculture.net/2010/11/legend-of-paper/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ciayumaja kuning,Culture Parade</title>
		<link>http://www.indonesiaculture.net/2010/10/ciayumajakuning-culture-parade/</link>
		<comments>http://www.indonesiaculture.net/2010/10/ciayumajakuning-culture-parade/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Oct 2010 11:43:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>harisetu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selection Info]]></category>
		<category><![CDATA[Ciayumaja kuning]]></category>
		<category><![CDATA[Cirebon]]></category>
		<category><![CDATA[Culture Parade]]></category>
		<category><![CDATA[indonesiaculture]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesiaculture.net]]></category>
		<category><![CDATA[Indramayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.indonesiaculture.net/?p=1136</guid>
		<description><![CDATA[Indonesian Culture &#124; indonesiaculture.net Variety of arts and culture of a small portion of Sunda land &#8211; Cirebon, Indramayu, Kuningan and Majalengka show the greatness through ciayumajakuning carnival culture. Being a public spectacle of thousands Cirebon people, moving convoy from the palace Kasepuhan and ending at Gedung Negara. Ragam seni budaya dari sebagian kecil tanah [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/01/culture-award-to-sundanese-artists/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Culture Award to Sundanese Artists'>Culture Award to Sundanese Artists</a></li>
<li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/03/cap-go-meh-parade/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cap Go Meh Parade'>Cap Go Meh Parade</a></li>
<li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/02/bharata-human-wayang-royal-culture-as-a-world-class-theatrical-arena/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bharata Human Wayang &#8221; Royal Culture as a World Class Theatrical Arena &#8220;'>Bharata Human Wayang &#8221; Royal Culture as a World Class Theatrical Arena &#8220;</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1137" title="kirab1a" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/10/kirab1a.jpg" alt="" width="294" height="230" /></a></p>
<p>Indonesian Culture | <a href="http://www.indonesiaculture.net">indonesiaculture.net</a></p>
<p><span style="color: #008000;">Variety of arts and culture of a small portion of Sunda land &#8211; Cirebon, Indramayu, Kuningan and Majalengka show the greatness through ciayumajakuning carnival culture. Being a public spectacle of thousands Cirebon people, moving convoy from the palace Kasepuhan and ending at Gedung Negara.</span></p>
<p><em>Ragam seni budaya dari sebagian kecil tanah sunda &#8211; Cirebon, Indramayu, Kuningan dan Majalengka menunjukkan kebesarannya melalui Kirab Budaya Ciayumajakuning. Menjadi tontonan ribuan masyarakat Cirebon, Iring-iringan bergerak mulai dari Keraton Kasepuhan dan berakhir di Gedung Negara.</em></p>
<p><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1138" title="kirab2" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/10/kirab2-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p><span style="color: #008000;">Royal troops and three replicas of the royal collection of historic carriage &#8211; Keraton Kasepuhan (Singa Barong carriage), Keraton Kanoman (Paksi Naga Liman carriage) and Keraton Kacirebonan (Juru Mudi carriage). And Pekalangan big carts become escort leading the procession, carrying the atmosphere dissolves in the past.</span></p>
<p><em>Pasukan kerajaan dan tiga replika kereta kerajaan koleksi bersejarah Keraton Kasepuhan (kereta Singa Barong), Keraton Kanoman (kereta Paksi Naga Liman) dan Keraton Kacirebonan (kereta Juru Mudi) serta pedati gede Pekalangan menjadi pengawal terdepan dalam kirab, membawa masyarakat larut dalam suasana masa silam.</em></p>
<p><a href="http://www.indonesiaculture.net/photo-gallery/"><img class="alignright size-medium wp-image-1139" title="kirab3" src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/uploads/2010/10/kirab3-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p><span style="color: #008000;">Procession route along 5kilometer, also become performance arena for several Art-Studio. Like mask dances from Mimi Rasinah Studio, Indramayu. Sintren dance group calung Bungko, egrang group, onthel bycles group, liong group, etc.</span></p>
<p><em>Rute kirab sepanjang 5kilometer ini juga menjadi arena pertunjukan terbuka bagi sejumlah sanggar kesenian.  Terlihat kelompok tari topeng dari sanggar Mimi Rasinah, Indramayu, kelompok tari sintren calung Bungko, kelompok egrag, kelompok sepeda ontel, kelompok liong serta lainnya.</em></p>
<p><span style="color: #008000;">End at Gedung Negara, with performance of  kelana rover masks dance. Avenged Rover mask dance are the combination of the five elements, namely the stream a mask dance Indramayu mask dance, Slangit mask dance, Palimanan mask dance, Losari mask dance dan Gegesik mask dance.</span></p>
<p><em>Berakhir di Gedung Negara, dengan pementasan rampak tari topeng kelana. Rampak tari topeng kelana merupakan gabungan dari unsur lima aliran tari topeng yakni tari topeng Indramayu, tari topeng Slangit, tari topeng Palimanan, tari topeng Losari dan tari topeng Gegesik. </em></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li>ragam seni budaya sunda</li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 Plugin --><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.indonesiaculture.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_120_16.png" width="120" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/01/culture-award-to-sundanese-artists/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Culture Award to Sundanese Artists'>Culture Award to Sundanese Artists</a></li>
<li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/03/cap-go-meh-parade/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cap Go Meh Parade'>Cap Go Meh Parade</a></li>
<li><a href='http://www.indonesiaculture.net/2010/02/bharata-human-wayang-royal-culture-as-a-world-class-theatrical-arena/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bharata Human Wayang &#8221; Royal Culture as a World Class Theatrical Arena &#8220;'>Bharata Human Wayang &#8221; Royal Culture as a World Class Theatrical Arena &#8220;</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.indonesiaculture.net/2010/10/ciayumajakuning-culture-parade/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

